Mengenal Imam Akhdhari:Matahari Keilmuan di Zaman Kegelapan

 

              Mengenal para ulama beserta karya-karya mereka ibarat menemukan kompas di tengah lebatnya hutan informasi pada masa kini. Mengenal para ulama dan karya-karya mereka juga merupakan bagian penting bagi seorang penuntut ilmu sebelum memulai perjalanan panjang dalam menuntut ilmu. Tanpa mengenal sosok ulama yang telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk berkhidmah kepada Al-Qur’an dan hadis, seseorang akan mengalami kesulitan dalam membedakan antara ajaran yang lurus dan pendapat yang sekadar didasarkan pada opini pribadi. Melalui kitab-kitab yang mereka tulis serta keteladanan yang mereka berikan, kita dapat “berguru” secara tidak langsung dan menyerap berbagai ilmu yang berharga tanpa melakukan spekulasi dalam menetapkan hukum agama.

              Dengan demikian, mengetahui latar belakang kehidupan dan karya-karya para ulama bukan sekadar untuk menambah wawasan atau menunjukkan keluasan pengetahuan, melainkan merupakan salah satu fondasi penting agar ibadah dan pemahaman keagamaan memiliki pijakan yang jelas dan kuat. Hal ini selaras dengan firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 69:

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰٓئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَۚ وَحَسُنَ اُولٰٓئِكَ رَفِيْقًا (النساء: ٦٩)

“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran (shiddiqin), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa ayat 69)

Selain itu, Nabi Muhammad Saw. juga menjelaskan tingginya kedudukan orang-orang yang berilmu melalui sabdanya:

إن العلماء ورثة الأنبياء، إن الأنبياء لم يورّثوا دينارا ولا درهما، إنما ورّثوا العلم، فمن أخذ به فقد أخذ بحظّ وافر (رواه الترمذي)ًًًَ

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Tirmidzi)

              Penulis memilih biografi Imam Akhdhari sebagai fokus pembahasan bukan tanpa alasan, tetapi karena  beliau merupakan salah seorang ulama yang dikenal memiliki kemampuan dalam menyederhanakan berbagai disiplin ilmu yang kompleks ke dalam bentuk matan atau teks ringkas yang mudah dipahami, khususnya bagi para pemula. Selain itu, sebagai salah seorang pegiat kajian ilmu manthiq, penulis memperoleh kesempatan untuk mengenal dan memahami konsep-konsep dasar ilmu manthiq melalui salah satu karya beliau, yaitu As-Sullam al-Munawraq.

A. Nama dan Nasab Imam Akhdhari

              Imam Akhdhari memiliki nama lengkap Abu Yazid Abdurrahman bin Muhammad ash-Shaghir bin Muhammad bin Amir al-Akhdhari. Dari pihak ayah, nasab beliau bersambung hingga salah seorang sahabat Rasulullah Saw., yaitu Al-Abbas bin Mirdas bin Abi Amir as-Sulami. Adapun nasab Al-Akhdhari dari pihak ibu tidak diketahui secara pasti; informasi yang diketahui adalah bahwa nama ibunya Khaddah. Beliau berasal dari sebuah daerah yang bernama Taflal Bughassirah. Daerah tersebut berada di sekitar aliran Wadi Al-Abyadh dan dekat dengan lereng Pegunungan Aures. Adapun penisbahan nama “Al-Akhdhari” dikaitkan dengan daerah atau suku Al-Akhdhar, yang merupakan nama sebuah bukit di Aljazair.

Pembahasan nama dan nasab Imam Akhdari juga dapat dilihat dalam artikel terkait https://share.google/GWW2OMPecHcUIcEIa

B. Tahun Kelahiran dan Wafat

              Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai tahun kelahiran dan wafat Imam Akhdhari. Sebagian ulama berpendapat bahwa beliau lahir pada tahun 920 H/1514 M di Biskra, Aljazair. Pendapat tersebut didasarkan pada keterangan yang terdapat dalam salah satu karya beliau, yaitu As-Sullam al-Munawraq.

ولبني إحـدى وعشـرين سنة # معـذرة مقبولة مستحسنة

“Bagi anak muda yang baru berumur 21 tahun, maklumilah bila ada kurang dan salahnya.”

لا سيما فى عاشر القـرون # ذي الجهل والفساد والفتون

“Apalagi hidup di abad Ke-10 ini, saat kebodohan, kekacauan, dan fitnah ada di mana-mana.”

وكان فى أوائل المحـرم # تأليف هذا الرجز المنظم

“Bait-bait syair ini selesai kurangkai tepat di awal bulan Muharram.”

من سنة إحدى وأربعين # من بعد تسعة من المئين

“Pada tahun 941 Hijriah.”

            Bait tersebut menunjukkan bahwa Imam Akhdhari menyusun kitab As-Sullam al-Munawraq ketika berusia 21 tahun. Berdasarkan keterangan tersebut, sebagian ulama memperkirakan bahwa beliau lahir pada tahun 920 H/1514 M.

            Adapun mengenai tahun wafat, sebagian ulama berpendapat bahwa beliau wafat pada tahun 983 H/1575 M di desanya yang bernama Bantius, salah satu desa di wilayah Biskra. Pendapat tersebut juga didasarkan pada keterangan yang terdapat dalam salah satu karya beliau, yaitu Ad-Durrah al-Bahiyyah:

تمّ بحمد الله ما قصدنا # من نظم هذه التى أردنا

“Alhamdulillah, selesai sudah apa yang kutuju, dari bait-bait syair yang memang ingin kubuat ini.”

سميتها بالدرة البهية # فهي لما فى أصلها محوية

“Kunamai ia Ad-Durrah Al-Bahiyyah, sebab ia merangkum seluruh isi dari kitab aslinya.”

وكان فى محرم الحرام # بدءا وختما لذا النظام

“Di bulan Muharram yang mulia, saya mulai sekaligus saya akhiri penyusunan syair ini.”

فى إحدى وثمانين سنة # من بعد تسعمائة مستحسنة

“Tepat pada tahun 981 Hijriah.”

              Berdasarkan keterangan tersebut, sebagian ulama berpendapat bahwa Al-Akhdhari masih hidup pada tahun yang disebutkan dalam bait tersebut.

C. Guru-Guru Imam Akhdhari

              Dalam perjalanan keilmuannya, Imam Akhdhari berguru kepada sejumlah ulama. Di antara guru-guru beliau dalah sebagai berikut:

1. Syaikh Muhammad ash-Shaghir: Beliau merupakan ayah Imam Akhdhari sekaligus salah seorang guru pertama yang membimbingnya. Dari sang ayah, Imam Akhdhari mempelajari berbagai ilmu dasar, seperti aritmetika dan ilmu faraid. Lebih dari sekadar guru, ayahnya menjadi sosok penting dalam pembentukan karakter dan penanaman pemahaman ilmu syariat sejak usia dini.

2. Ahmad bin Muhammad ash-Shaghir: Ahmad merupakan kakak tertua Imam Akhdhari. Ia turut berperan penting dalam perjalanan keilmuan Imam Akhdhari dengan mengajarkan berbagai disiplin ilmu, di antaranya fikih, manthiq, dan bayan.

3. Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ali al-Kharrubi: Dari Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ali al-Kharrubi, Imam Akhdhari mendalami ilmu tasawuf dan menerima ajaran wirid Tarekat Syadziliyah.

4. Syaikh Umar bin Muhammad al-Kammad: Syaikh Umar bin Muhammad al-Kammad merupakan salah seorang ulama yang berasal dari Konstantin. Beliau dikenal menguasai bidang fikih dan tasawuf.

D. Karya-Karya Imam Akhdhari

              Imam Akhdhari dikenal sebagai salah seorang ulama yang memiliki perhatian luas terhadap berbagai cabang ilmu, baik ilmu-ilmu keagamaan maupun ilmu-ilmu rasional. Keistimewaan beliau juga terlihat dari produktivitasnya dalam menghasilkan karya sejak usia yang relatif muda. Di antara karya-karya beliau adalah sebagai berikut:

1. Tahun 939 H: Kitab As-Siraj fi al-Hai’ah
    Kitab ini merupakan nazam yang membahas dasar-dasar ilmu falak. Karya ini termasuk karya awal Imam Akhdhari yang ditulis ketika beliau berusia sekitar 19–20 tahun. Pada bagian akhir nazam, beliau mencatumkan:

وإن رآه عارف فاستحسنه # فالعذر حق لابن عشرين سنة

“Jika ada kekurangan dalam karya ini, mohon dimaklumi, karena penulisnya masih berusia 20 tahun.”

في شهر ذي القعدة في المصيف # فرغنا من جمع ذا التأليف

“Selesailah sudah saya kumpulkan penyusunan kitab ini, di bulan Dzulqa’dah pada musim panas.”

سنة تسع وثلاثين مضت # من بعد تسعمائة قد انقضت

“Tepat pada tahun 939 Hijriah.”

2. Tahun 940 H: Kitab Ad-Durrah al-Baidha fi Ahsan al-Funun wa al-Asyya’
    Kitab ini merupakan nazam yang membahas ilmu faraid atau pembagian warisan. Beliau menyusun kitab ini ketika berusia sekitar 20 tahun. Pada bagian akhir nazam, beliau menyebutkan waktu penyelesaiannya:

من بعد تسعمائة محصلة # من سنة لأربعين مكملة

“Tepat di tahun 940 Hijriah, karya ini telah sempurna.”

3. Tahun 940 H: Kitab Azhar al-Mathalib fi Ilm al-Asturlab
    Kitab ini membahas ilmu falak, khususnya berkaitan dengan penggunaan astrolab. Imam Akhdhari menyusun karya ini ketika berusia sekitar 20 tahun.

4. Tahun 941 H: Kitab As-Sullam al-Munawraq
    Kitab ini merupakan salah satu karya Imam Akhdhari yang paling populer, khususnya dalam bidang ilmu manthiq. Karya tersebut mendapatkan perhatian luas dari para ulama dan kemudian melahirkan berbagai syarah dan hasyiah. Karena ditulis dalam bentuk nazam, kitab ini menjadi salah satu karya manthiq yang relatif mudah dihafalkan dan banyak dipelajari oleh para penuntut ilmu. Imam Akhdhari menyusun kitab ini ketika berusia 21 tahun. Hal tersebut disebutkan dalam bait berikut:

ولبني إحـدى وعشـرين سنة # معـذرة مقبولة مستحسنة

“Bagi anak muda yang baru berumur 21 tahun, maklumilah bila ada kurang dan salahnya.”

لا سيما فى عاشر القـرون # ذي الجهل والفساد والفتون

“Apalagi hidup di abad Ke-10 ini, saat kebodohan, kekacauan, dan fitnah ada di mana-mana.”

وكان فى أوائل المحـرم # تأليف هذا الرجز المنظم

“Bait-bait syair ini selesai saya rangkai tepat di awal bulan Muharram.”

من سنة إحدى وأربعين # من بعد تسعة من المئين

“Pada tahun 941 Hijriah.”

5. Tahun 944 H: Kitab Al-Manzhumah al-Qudsiyyah
    Kitab ini merupakan nazam yang membahas tasawuf dan adab. Karya tersebut menunjukkan bahwa perhatian Imam Akhdhari tidak hanya tertuju pada ilmu-ilmu rasional, tetapi juga pada aspek spiritual dan pembinaan jiwa. Beliau menyusun karya ini ketika berusia sekitar 24 tahun dan terdiri atas kurang lebih 346 bait.

6. Tahun 950 H: Kitab Al-Jauhar al-Maknun fi Shadaf ats-Tsalatsah al-Funun
    Kitab ini merupakan nazam yang membahas tiga cabang utama ilmu balagah, yaitu ilmu ma’ani, bayan, dan badi’. Imam Akhdhari menyusun kitab ini ketika berusia sekitar 30 tahun.

7. Tahun 981 H: Kitab Ad-Durrah al-Bahiyyah fi Nazhm al-Ajurrumiyyah
    Karya ini merupakan nazam terhadap kitab Al-Ajurrumiyyah. Karya tersebut menunjukkan bahwa perhatian Imam Akhdhari terhadap ilmu bahasa Arab juga cukup luas. Beliau menyusun kitab ini ketika berusia sekitar 61 tahun. Pada bagian akhir nazam, beliau menyebutkan:

تمّ بحمد الله ما قصدنا # من نظم هذه التى أردنا

“Alhamdulillah, selesai sudah apa yang saya tuju, dari bait-bait syair yang memang ingin saya buat ini.”

سميتها بالدرة البهية # فهي لما فى أصلها محوية

“Saya namai ia Ad-Durrah Al-Bahiyyah, sebab ia merangkum seluruh isi dari kitab aslinya.”

وكان فى محرم الحرام # بدءا وختما لذا النظام

“Di bulan Muharram yang mulia, saya mulai sekaligus saya akhiri penyusunan syair ini.”

فى إحدى وثمانين سنة # من بعد تسعمائة مستحسنة

“Tepat pada tahun 981 Hijriah.”

E. Kondisi Keilmuan pada Masa Imam Akhdhari

              Pada masa Imam Akhdhari, khususnya sekitar abad ke-10 H, keadaan ilmu dan kehidupan keagamaan mengalami kemunduran; Kebodohan, berbagai penyimpangan, dan praktik-praktik bidah mulai banyak muncul. Imam Akhdhari menggambarkan kondisi tersebut dalam salah satu bait yang terdapat dalam kitab As-Sullam al-Munawraq:

لا سيما فى عاشر القرون # ذي الجهل والفساد والفتون

“Apalagi hidup di abad ke-10 ini, saat kebodohan, kekacauan, dan fitnah ada di mana-mana.”

              Imam Akhdori juga menggambarkan kesedihannya terhadap keadaan ilmu dan para ulama pada zamannya dalam kitab Al-Manzhumah al-Qudsiyyah:

هذا زمان كثرت فيه البدع # واضطربت عليه أمواج الخدع

“Ini adalah zaman ketika bidah kian merajalela, dan gelombang tipu daya bertabrakan di mana-mana.”

وخسفت شمس الهدى وأفلت # من بعد ما قد بزغت وكملت

“Matahari petunjuk seakan redup dan tenggelam, padahal dulu pernah bersinar begitu terang dan sempurna.”

والدين قد تهدمت أركانه # والزور طبّق الهوى دخانه

“Tiang-tiang agama makin roboh, sementara asap kepalsuan dan hawa nafsu menutup segalanya.”

وظلمات الزور والبهتان # تزخرفت فى جملة الأوطان

“Kegelapan, kebohongan dan fitnah dipoles indah di berbagai penjuru negeri.”

يا ويلتي هذا زمان البدع # مات به أهل التقى والورع

“Duhai, betapa malangnya zaman penuh bidah ini, zaman ketika orang-orang bertakwa dan jujur telah berpulang.”

واحسرتي على الكرام البراره # قد أخلفوا بالمدعين الفجره

“Betapa sedihnya ditinggal jiwa-jiwa mulia yang tulus, yang kini justru digantikan oleh para pemula yang lancang.”

قد ادّعوا مراتبا جليله # والشرع قد تجنّبوا سبيله

“Mereka mengaku-ngaku punya kedudukan yang tinggi, padahal jalan syariat justru mereka tinggalkan.”

              Dari bait-bait tersebut, dapat dipahami bahwa Imam Akhdhari memandang zamannya sebagai masa yang cukup memprihatinkan dalam aspek keilmuan dan kehidupan keagamaan. Kebodohan dan berbagai penyimpangan semakin banyak terjadi, sementara nilai-nilai agama dan semangat dalam menjaga tradisi keilmuan mulai mengalami pelemahan. Kondisi tersebut menjadi salah satu konteks yang mendorong beliau untuk terus menjaga dan mengembangkan tradisi keilmuan melalui karya-karyanya.

F. Perjalanan Keilmuan dan Murid-Murid Imam Akhdhari

              Meskipun Imam Akhdhari hidup pada masa ketika kebodohan dan berbagai penyimpangan semakin meluas, beliau tidak muncul dari ruang yang kosong. Imam Akhdhari tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki tradisi keilmuan dan spiritual yang kuat. Beliau berasal dari keluarga yang melahirkan sejumlah ulama dan tumbuh dalam lingkungan yang berpegang teguh pada syariat serta menolak berbagai hal yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunah.

              Imam Akhdhari menimba ilmu dari ayahnya, Syaikh Muhammad ash-Shaghir, dan kakak tertuanya, Syaikh Ahmad bin Muhammad ash-Shaghir. Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan keilmuannya dengan menghadiri berbagai majelis ilmu yang dibimbing oleh para ulama di wilayah Al-Zab. Terdapat pula beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa Imam Akhdhari pernah belajar di Al-Zaitunah, Tunisia. Adapun murid-murid beliau berasal dari berbagai daerah di Aljazair. Salah seorang murid yang dikenal hingga saat ini dalah Syaikh Abu Faris Abdul Aziz bin Ahmad bin Muslim Al-Farisi. Beliau merupakan salah seorang yang memberikan syarah terhadap kitab Imam Akhdhari yang berjudul As-Siraj dalam bidang ilmu falak.

G. Metode Pengajaran Imam Akhdhari

              Imam Akhdhari telah memulai aktivitas keilmuannya sejak usia muda. Di samping memiliki perhatian yang besar terhadap berbagai disiplin ilmu, beliau juga menunjukkan kepedulian terhadap proses pendidikan dan pengajaran. Salah satu metode yang digunakan untuk memudahkan para pelajar dalam memahami dan menghafal materi adalah dengan menyusunnya dalam bentuk bait-bait nazam. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai karya beliau dalam bidang tasawuf, faraid, falak, balagah, manthiq, dan bidang-bidang lainnya.

              Melalui bentuk nazam, berbagai materi yang kompleks dapat disusun secara ringkas, sistematis, dan mudah dihafalkan oleh para penuntut ilmu. Meskipun Imam Akhdhari sering berkhalwat, sibuk belajar, dan bertafakur di tempat khalwatnya, beliau tidak berusaha menampilkan diri seolah-olah sebagai seorang wali yang sepenuhnya terputus dari kehidupan masyarakat. Beliau juga tidak mengklaim dirinya sebagai seorang ahli tarekat yang memiliki karamah.

Penutup

              Mengenali biografi dan karya-karya Imam Akhdhari bukan sekadar menelusuri lipatan sejarah, melainkan juga merupakan salah satu upaya untuk menghidupkan kembali tradisi keilmuan yang kokoh. Di tengah tantangan zamannya yang penuh dengan kemunduran dan kebodohan, beliau menunjukkan bahwa ilmu-ilmu yang rumit dan berat dapat disederhanakan melalui bait-bait nazam yang indah tanpa mengurangi kedalaman maknanya.

              Kepribadian beliau yang memadukan kekuatan akal, ketaatan terhadap syariat, serta sifat tawaduknya menjadikan Imam Akhdhari sebagai salah satu sosok yang layak diteladani oleh para penuntut ilmu. Karya-karya beliau juga menunjukkan bahwa penguasaan terhadap ilmu rasional dapat berjalan beriringan dengan perhatian terhadap ilmu-ilmu keagamaan dan pembinaan spiritual. Oleh karena itu, mempelajari biografi dan karya-karya Imam Akhdhari tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai seorang ulama pada masa lalu, tetapi juga memberikan pelajaran mengenai pentingnya ketekunan, kedisiplinan, dan metode dalam menuntut ilmu. Semoga risalah dan karya-karya beliau senantiasa menjadi salah satu kompas yang memandu perjalanan ilmiah kita agar tetap berada di atas jalan kebenaran yang berlandaskan Al-Qur’an dan sunah.

DAFTAR PUSTAKA

Dar al-Ifta al-Misriyyah. “Al-Imam ‘Abd al-Rahman al-Akhdhari.” Dar al-Ifta al-Misriyyah. Diakses 4 Oktober 2026. “Halaman artikel Dar al-Ifta al-Misriyyah” (https://reference-url-citation.invalid/3)

Hamdadu bin Umar. “Turats al-Syaikh ‘Abd al-Rahman al-Akhdhari (Shahib al-Sullam al-Murawwaq).” Al-Mauqi‘ al-Rasmi li al-Duktur Walid Ibn al-Salah, 30 Maret 2022. “Artikel lengkap” (https://reference-url-citation.invalid/4)

Al-Daraji, Bouziani. ‘Abd al-Rahman al-Akhdhari: al-‘Alim al-Sufi alladhi Tafawwaqa fi ‘Ashrihi. Aljazair: Dar al-Amal li al-Dirasat wa al-Nashr wa al-Tawzi‘, 2006.

Oleh : Zaqi Ramadhani

Editor : Zulfa Rasyidah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *